Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PERJALANAN KAPTEN F.G. STECK MENEMBUS LEBONG, NOVEMBER 1857 (BAGIAN II)

Ilustrasi.

Kembali Pulang ke Lais-Bengkulu

Kapten Steck sebenarnya ingin kembali ke Bengkulu melalui jalur lain, yaitu melewati Skandouw dan Muara Jantan. Namun, hujan yang terus-menerus serta banjir besar di Sungai Ketahun membuat hal itu tidak mungkin dilakukan.

Akhirnya, Kapten Steck harus memutuskan untuk kembali melalui jalur yang sama seperti saat datang. Dia dan rombongannya diantar oleh para passirah hingga Danau, serta oleh Depati dari Kalikut dan beberapa kepala lainnya hingga ke Sungai Mengani atau Barung Picar, yang sudah berada di wilayah Bengkulu.

Dari semua ini, jelas bahwa Kapten Steck memiliki alasan kuat untuk merasa sangat puas dengan sambutan yang diterimanya. Dia juga dapat berasumsi bahwa penyelidikan lebih lanjut mengenai wilayah independen Lebong dapat dilakukan tanpa kekhawatiran akan adanya hambatan dari para pemimpin atau penduduk setempat.

Geografi dan Potensi Ekonomi Lebong

Mengenai wilayah Lebong, daerah ini merupakan sebuah lembah yang terletak di antara dua perpanjangan Pegunungan Barisan. Lebar lembah ini sekitar 4 hingga 5 pal, dengan panjang sekitar 18 hingga 20 pal. Sungai Ketahun mengalir membelah lembah ini sepanjang keseluruhannya.

Tanah di lembah ini membentuk dataran dengan lebar sekitar 2 pal, yang sangat cocok untuk pengembangan lahan perladangan yang luas. Saat ini, sebagian dari lahan tersebut memang telah dimanfaatkan untuk keperluan tersebut. Kesuburan tanah di Lebong, baik di dataran maupun di perbukitannya, sudah terkenal luas. Wilayah ini sangat cocok untuk budidaya kopi dan tembakau, yang memang telah diusahakan oleh penduduk dengan hasil yang baik. Di beberapa sungai, juga ditemukan emas, perak, dan timah yang dicuci dari endapan sungai, sementara di beberapa gunung terdapat endapan belerang.

Penduduk setempat menanam padi di ladang, sementara tembakau ditanam di antara tanaman padi itu, dan kopi ditanam di sekitar kampung serta talang. Sementara peternakan tidak memiliki peran penting dalam kehidupan mereka. Iklim di daerah ini segar dan sehat. Selama Kapten Steck berada di sana, suhu rata-rata adalah pagi hari: 72°F (22°C), siang hari: 81°F (27°C) dan malam hari: 75°F (24°C).

Sejarah dan Asal-usul Masyarakat Lebong

Penduduk Lebong meyakini bahwa mereka berasal dari Pagaruyung. Raja Jungur, yang dahulu mengungsi dari Menangkabau, merupakan orang pertama yang menetap di wilayah Lebong dan mendirikan Kampung Kota Baru di tepi Sungai Santan.

Semasa hidupnya, ia membagi kerajaannya menjadi dua bagian. Bagian yang lebih besar diberikan kepada putra sulungnya, yang kemudian menjadi kepala Suku Simalakka, sementara bagian lainnya diberikan kepada menantu laki-lakinya, yang menjadi kepala Suku Aman.

Kemudian, wilayah Aman kembali dibagi menjadi dua bagian, di mana salah satu bagiannya diberi nama Selupuh. Begitu pula, wilayah Simalakka juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu Bermani dan Jurukalang. Pembagian ini masih bertahan hingga saat ini, sehingga wilayah Lebong memiliki empat marga:

  1. Tubei, yang mencakup Suku Simalakka dan Aman,
  2. Selupuh,
  3. Bermani, dan
  4. Jurukalang

Setiap marga dipimpin oleh seorang Pasirah sebagai kepala tertinggi. Di Marga Tubai, setiap suku juga memiliki Pasirah sendiri. Meskipun para pasirah ini dapat dianggap sebagai penguasa kecil yang independen, mereka tetap memiliki hubungan saling ketergantungan, yang dijaga berdasarkan adat lama dalam urusan penting.

Marga Selupuh bergantung pada Suku Aman, dan Suku Aman sendiri bergantung pada Suku Simalakka. Sementara itu, Marga Bermani dan Jurukalang masing-masing langsung bergantung pada Simalakka.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk, beberapa keluarga mulai bermigrasi dan menetap di wilayah Lais, di sepanjang Sungai Bentunan, di mana mereka mendirikan pemukiman Skiouw dan Kota Donok. Beberapa lainnya pindah ke sepanjang Sungai Padang, di mana seluruh kampung yang berada di tepi sungai tersebut dibangun oleh penduduk asal Lebong.

Di Sungai Telatang, mereka mendirikan kampung Lubuk Lubuk dan Langgar Agung. Kemudian, terjadi perpindahan penduduk dalam jumlah besar ke wilayah Rejang, di mana kelompok Ampat Petulai dan kampung Lubuk Puding di Ampat Lawang berasal dari orang-orang Lebong. Dari Ampat Petulai, beberapa orang kembali bermigrasi dan menetap di sepanjang Sungai Palik, mendirikan kampung Aur Gading, Dusun Tinggi, dan Minjakka.

Melalui hubungan keluarga, pernikahan, dan perpindahan yang terus berlangsung, kampung-kampung ini tetap memiliki hubungan erat dengan marga-marga di Lebong. Beberapa kepala kampung, seperti Depati dari Aur Gading, bahkan memiliki pengaruh besar di wilayah Lebong.

Sejauh yang dapat diperkirakan, dahulu wilayah Lebong memiliki populasi sekitar 25.000 hingga 30.000 jiwa. Namun, saat ini daerah tersebut jarang berpenduduk, dan jumlah keseluruhan penduduknya mungkin hanya sekitar 4.000 jiwa.

Wabah kolera telah menyebabkan kehancuran besar di daerah ini; banyak kampung yang musnah sepenuhnya akibat penyakit tersebut. Namun, pukulan paling berat bagi wilayah ini terjadi akibat sebuah ekspedisi militer yang berlangsung pada masa ketika Bengkulu berada di bawah pemerintahan Inggris. Dampak dari ekspedisi ini masih terasa hingga sekarang, dan pengaruhnya belum sepenuhnya hilang.

Kehidupan Orang Lebong

Penduduk Lebong secara fisik adalah orang-orang yang kuat dan sehat. Namun, seperti masyarakat lain di Sumatra Selatan, mereka dikenal sangat malas, hanya peduli dengan kebutuhan hari ini tanpa memikirkan hari esok.

Tanah yang sangat subur dan sungai yang kaya akan ikan menyediakan makanan berlimpah. Sementara itu, kaum perempuan bertanggung jawab atas pembuatan pakaian, dan rumah mereka dibangun sepenuhnya dari bambu, yang tumbuh dalam jumlah besar di daerah tersebut.

Hasil bumi yang berlimpah—terutama tembakau, kopi, dan sedikit emas—dibawa ke Lais dan Ketaun untuk ditukar dengan garam, kain, barang-barang besi, dan candu, atau dijual dalam bentuk uang tunai untuk memenuhi kegemaran mereka dalam sabung ayam dan perjudian lainnya.

Di mata masyarakat Bengkulu, penduduk Lebong memiliki reputasi buruk. Namun, Kapten Steck percaya bahwa mereka sering kali dijadikan kambing hitam atas berbagai kejahatan yang sebenarnya bukan perbuatan mereka. Sangat mudah bagi orang-orang untuk menyalahkan mereka setiap kali terjadi kejahatan dengan mengatakan: "Ini pasti perbuatan orang Lebong!"

Kampung-kampung di daerah ini umumnya kecil dan dibangun dengan buruk, karena kebanyakan orang Lebong tinggal menyebar di talang-talang, yaitu permukiman kecil yang mereka bangun di dekat sawah dan ladang mereka. Oleh karena itu, talang-talang di daerah ini umumnya lebih tertata dengan baik, dan saya bahkan menemukan beberapa rumah kayu yang beratapkan ijuk.

Para lelaki berpakaian sederhana dan miskin, sementara para perempuan berpakaian sedikit lebih baik dan sering memakai banyak perhiasan dari emas dan perak. Namun, kebanyakan dari perhiasan ini tampaknya merupakan sisa dari kekayaan masa lalu.

Agama yang dianut penduduk adalah Islam, dan sejauh yang Kapten Steck amati, hukum serta adat istiadat mereka hampir sama dengan masyarakat Lais dan wilayah sekitar Bengkulu. Beleket dan uang bangun juga digunakan dalam pernikahan mereka.

Sistem pemerintahan yang berlaku mengikuti sistem suku yang umum di kalangan masyarakat Melayu. Namun, para pemimpin suku memiliki sedikit kekuasaan atas rakyatnya. Salah satu alasan utama mengapa mereka ingin berada di bawah pemerintahan yang lebih teratur mungkin adalah harapan bahwa mereka akan memperoleh lebih banyak kendali atas rakyat mereka.

Sumber:
Extract Uit Be Beschrijving Eener Reis Naar Het Tusschen Benkoelen En Palembang Gelegen Onafhankelijke Landschap Lebong, In 1857 Ondernomen Door Den Kapitein Der Infanterie F. G. Steck, Gedetacheerd Bij Den Generalen Staf, Toenmaals Belast Met De Op Name Der Onafhankelijke Districten Tusschen Palembang En Benkoelen, November 1857

Lihat Sebelumnya:
PERJALANAN KAPTEN F.G. STECK MENEMBUS LEBONG, NOVEMBER 1857 (BAGIAN I)

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2012, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "PERJALANAN KAPTEN F.G. STECK MENEMBUS LEBONG, NOVEMBER 1857 (BAGIAN II)"