Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PERJALANAN KAPTEN F.G. STECK MENEMBUS LEBONG, NOVEMBER 1857 (BAGIAN I)

Ilustrasi. by AI

Perjalanan ke Lebong, yang dilakukan pada 1857 oleh Kapten Infanteri F. G. Steck, yang bertanggung jawab atas Pemetaan Distrik-Distrik Independen di antara Palembang dan Bengkulu.

Setelah Asisten Residen Bengkulu mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan para kepala suku dari Lebong yang dikirim ke Pasirah kembali ke Lais dengan jaminan bahwa rombongan akan diterima dengan baik di sana, rombongan Kapten Steck berangkat dari Lais menuju wilayah ini pada tanggal 2 November 1857. Kapten Steck ditemani oleh Depati dari Aur Gading, Depati dari Air Koto, Radja Leila dari Talang Lemba, Penghulu Kasan dari Perbo, serta enam petugas polisi bersenjata.

Jalur Perjalanan dari Lais ke Lebong

Rute perjalanan dari Lais melewati Talang Rasau, di mana rombongan menyeberangi Sungai Lais, kemudian melalui Padang Kala, tempat Sungai Padang mengalir, serta Dusun Baru, di mana mereka melintasi Sungai Bentunan. Perjalanan dilanjutkan melalui hutan belantara yang tidak berpenghuni hingga mencapai Atas Tebing, kampung pertama di Lebong.

Jalur ini merupakan jalan setapak biasa, tetapi cukup sering dilalui, sehingga tidak terlalu sulit untuk dilewati. Dengan sedikit perbaikan, jalur ini dapat diubah menjadi jalan yang lebih baik untuk perjalanan. Meskipun butuh empat hari untuk menyelesaikan perjalanan ini, dengan peningkatan infrastruktur, jalur ini dapat ditempuh dalam tiga hari, atau bahkan dua hari jika melakukan perjalanan dengan cepat.

Puncak Bukit Sakipat dianggap sebagai batas pemisah antara Lais dan Lebong, dengan ketentuan bahwa semua aliran air yang mengalir dari puncak tersebut ke arah utara hingga ke puncak Gunung Daun, kemudian bergabung dengan Sungai Ketahun, termasuk dalam wilayah Lebong. Sementara itu, aliran air yang mengalir ke arah selatan dan barat daya menuju laut dianggap sebagai bagian dari wilayah Lais.

Gunung Daun (2467 mdpl), sumber

Penyambutan di Lebong

Di Bukit Sakipat, rombongan Kapten Steck disambut oleh beberapa proatin yang dikirim oleh para pasirah untuk menjemput. Mereka kemudian mengantar rombongan ke Kampung Danau, pusat Marga Selupu dan tempat kediaman pasirah marga tersebut, Depati Tiang Alam.

Segala sesuatu telah dipersiapkan dengan baik untuk penyambutan. Karena tersebar kabar bahwa yang akan datang adalah seratus tentara, seratus pengikut, dan para kuli, bahkan telah didirikan sebuah barak untuk menampung pasukan serta dikumpulkan sejumlah besar beras, ayam, kambing, dan bahan makanan lainnya.

Dari tempat ini, Kapten Steck mengumumkan akan mengadakan pertemuan umum para kepala suku pada tanggal 8 Oktober di Aman, pusat Marga Tubei.

Pada tanggal 7 November, Kapten Steck berangkat ke tempat tersebut. Seperti di Danau, segala sesuatu telah dipersiapkan dengan baik untuk penyambutan, termasuk pendirian barak untuk pasukan.

Pertemuan Umum Para Kepala Suku

Pada tanggal 8 November, pukul 11 pagi, Kapten Steck membuka pertemuan yang dihadiri oleh:

  1. Dua pasirah Marga Tubei, yaitu Raja Sutan dan Radin Kumala, beserta wakil mereka, Alam Raja dan Merasun.
  2. Pasirah Marga Selupu, yaitu Depati Tiang Alam, beserta wakilnya, Raja Leila.
  3. Dari Marga Tubei, hadir pula para kepala suku dari Kalikut, Lebong Tengah, Tunggang, Batu Belah, Dauw, Suku Simalakka, Lubuk Gedang, Talang Lia, dan Ujung Tanjung.
  4. Dari Marga Selupu, seluruh kepala sukunya turut hadir.

Para pasirah dan kepala suku dari Marga Bermani dan Jurukalang tidak dapat hadir karena jarak yang terlalu jauh dan kemungkinan besar komunikasi terhalang oleh banjir besar di Sungai Ketahun. Namun, karena kepala-kepala suku ini pada dasarnya berada di bawah pengaruh Pasirah Marga Tubei, Suku Simalaka, maka mereka mengambil tanggung jawab berikut:
  1. Menyampaikan secara jujur semua hal yang akan dibahas dalam pertemuan ini kepada mereka.
  2. Memberikan jaminan bahwa para passirah dan kepala suku tersebut akan menaati semua keputusan yang mereka sepakati.

Selain itu, beberapa kepala suku tingkat rendah serta sebagian besar penduduk laki-laki dari kampung-kampung sekitar turut hadir dalam pertemuan ini.

Hubungan Lebong dengan Pemerintah Hindia Belanda

Karena beredar desas-desus bahwa Kapten Steck datang untuk mengambil alih wilayah Lebong atas nama Pemerintah Hindia Belanda, maka dia memulai dengan menjelaskan kepada para kepala suku yang berkumpul bahwa hal tersebut sama sekali tidak benar. Namun, karena pemerintah ingin lebih mengenal wilayah mereka, Kapten Steck mengatakan, bahwa dia ditugaskan, bersama seorang Eropa lainnya, untuk menjelajahi daerah ini. Dia kemudian bertanya kepada mereka apakah mereka keberatan dengan hal ini dan apakah mereka bersedia memberikan bantuan kepada rombongan atau utusan selama perjalanan.

Depati dari Kalikut, yang bertindak sebagai juru bicara para pasirah, menjawab bahwa para pasirah dan kepala suku tidak memiliki keberatan dan bahkan menyambut baik hal ini. Mereka menegaskan bahwa rombongan Kapten Steck tidak perlu merasa khawatir selama berada di wilayah Lebong. Namun, jika ada perampok dari Rejang atau Pasemah yang datang, mereka akan memberi peringatan kepada kami agar dapat segera mengungsi, karena jika jumlahnya besar, mereka tidak akan mampu menahan mereka.

Kapten Steck kemudian menegaskan kepada mereka bahwa jika terjadi sesuatu terhadap dia atau utusannya di wilayah Lebong, Pemerintah Hindia Belanda pasti akan mengambil tindakan pembalasan. Dia juga menegaskan, bahwa dia atau utusannya harus selalu didampingi oleh pasirah atau wakilnya di setiap marga yang dikunjungi. Selain itu, seluruh kepala suku dari marga tersebut secara umum, serta kepala kampung tempat mereka tinggal secara khusus, akan bertanggung jawab atas keselamatan, nyawa dan barang-barang milik rombongan.

Kapten Steck juga meminta semua kepala suku, satu per satu, untuk memastikan bahwa mereka memahami apa yang telah disampaikan dan apakah mereka setuju dengan hal tersebut. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengajukan keberatan.

Selanjutnya, diputuskan bahwa mereka akan mengantar Kapten Steck atau utusannya ke mana pun diperlukan. Meskipun pekerjaan sebagai kuli bukanlah kebiasaan di antara mereka, dan setiap orang yang dipanggil untuk tugas tersebut memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak permintaan kepala sukunya, mereka tetap akan berusaha memenuhi keinginan Kapten Steck dalam hal ini. Namun, tidak mungkin untuk menetapkan harga tetap, karena pekerjaan yang harus dilakukan serta pembayaran yang diminta sepenuhnya bergantung pada kehendak baik anak buah mereka.

Depati dari Kalikut, seorang kepala suku yang berpengaruh dan cakap, akhirnya berjanji untuk secara pribadi mendampingi utusan Kapten Steck ke mana pun serta menjamin penyambutan yang baik.

Setelah itu, Kapten Steck menyerahkan hadiah yang telah dibawa dari Bengkulu kepada para pasirah dan proatin yang hadir, dengan janji bahwa kepala suku yang tidak hadir pada saat itu akan menerima hadiah mereka nanti, sesuai dengan kedatangan utusan di wilayah mereka. Namun, hadiah untuk pasirah dari Tes dan Jurukalang diserahkan kepada pasirah dari Simalakka untuk diteruskan kepada mereka.

Depati dari Kalikut kemudian kembali berbicara atas nama para pasirah dan kepala suku yang hadir. Ia menegaskan bahwa masyarakat Lebong tidak menginginkan apa pun selain hidup dalam damai dan menjalin hubungan baik dengan penduduk Lais dan Ketahun. Sebagai bukti bahwa mereka dengan senang hati menaati perjanjian yang telah dibuat, ia menyebut bahwa mereka baru-baru ini telah mengusir tiga prajurit yang melarikan diri dari Tebing Tinggi, yaitu Pa Asan, Teng, dan Mas Agus Saleh. Saat ini, hanya satu orang dari Tebing Tinggi yang masih berada di antara mereka, yaitu seorang pria bernama Abdul Karim, alias Juragan. Namun, jika dikehendaki, mereka bersedia menyerahkannya kepada Kapten Steck.

Bahwa mereka tidak selalu mampu mengusir orang-orang jahat yang datang dari Distrik Ulu Musi atau Pasemah, dan oleh karena itu, mereka sangat menginginkan untuk berada di bawah pemerintahan Bengkulu. Mereka percaya bahwa dengan demikian, mereka akan lebih terlindungi dari serangan semacam itu. Mereka pun meminta Kapten Steck sekali lagi untuk menyampaikan keinginan ini kepada pemerintah.

Kapten Steck menjawab bahwa akan dengan senang hati akan memenuhi permintaan mereka sejauh itu kepada Asisten Residen di Bengkulu. Dia juga menyatakan bahwa tindakan mereka dalam mengusir prajurit yang melarikan diri pasti akan disambut baik oleh pemerintah Bengkulu. Mengenai Juragan, Kapten Steck menjelaskan, bahwa dia tidak datang untuk menangkap orang-orang yang melarikan diri, tetapi menyarankan agar yang bersangkutan secara sukarela menyerahkan diri kepada pemerintah di Lais atau Bengkulu.

Pesta Penyambutan

Setelah pertemuan selesai, para gadis dari Aman dan desa-desa terdekat datang untuk memberi penghormatan (sembea, bekejei) kepada Kapten Steck. Mereka mempersembahkan sirih, cerutu, dan buah-buahan. Tindakan ini harus dianggap sebagai bentuk penghormatan serta tanda kepercayaan mereka.

Sebagai balasan, Kapten Steck membagikan beberapa hadiah kecil kepada mereka, seperti mutiara, cermin, dan perhiasan berlapis emas. Hal ini menimbulkan kegembiraan yang luar biasa di antara mereka. Para pasirah pun ingin menyembelih seekor kerbau sebagai penghormatan bagi rombongan. Namun, Kapten Steck menolak dengan alasan bahwa jumlah kerbau di Lebong sangat sedikit.

Keesokan harinya, pasirah dari Aman datang menemui Kapten Steck bersama Juragan. Ia memohon pengampunan bagi Juragan, yang telah tinggal di desanya selama lebih dari enam bulan. Juragan telah menikah, membuka ladang, dan sedang membangun rumahnya. Pasirah menyatakan bahwa ia sangat puas dengan perilaku Juragan dan berharap dapat mengizinkannya tetap tinggal sebagai warga kampungnya.

Kapten Steck menjawab bahwa dia tidak memiliki wewenang untuk memberikan pengampunan atau izin yang diminta. Namun, dia berjanji akan menyampaikan permohonan tersebut kepada Asisten Residen Bengkulu.

Sumber:

Extract Uit Be Beschrijving Eener Reis Naar Het Tusschen Benkoelen En Palembang Gelegen Onafhankelijke Landschap Lebong, In 1857 Ondernomen Door Den Kapitein Der Infanterie F. G. Steck, Gedetacheerd Bij Den Generalen Staf, Toenmaals Belast Met De Op Name Der Onafhankelijke Districten Tusschen Palembang En Benkoelen, November 1857

Lihat juga:

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2012, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "PERJALANAN KAPTEN F.G. STECK MENEMBUS LEBONG, NOVEMBER 1857 (BAGIAN I)"