Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CERITA RAKYAT BENGKULU: IBU SEJATI

Ilustrasi
Ibu Sejati

Di sebuah sudut hutan yang tenang, hiduplah seekor induk kucing bersama anaknya yang manja luar biasa. Suatu hari, si induk kucing jatuh sakit. Ia kelelahan karena terus bekerja keras mencari makan untuk anaknya yang, sayangnya, hanya bisa merengek dan bermalas-malasan.

"Anakku, mari ke sini... Ibu ingin berbicara," kata induk kucing dengan suara lemah.

Si anak kucing mendekat dengan malas. "Ada apa, Bu? Aku lagi enak-enaknya tidur, nih."

Induk kucing menghela napas. "Nak, kau sudah besar. Saatnya kau belajar mencari makan sendiri. Ibu sudah terlalu lelah dan sakit-sakitan."

Si anak kucing terkejut. "APA?! Jadi Ibu mau mengusirku?! Ibu sudah tak sayang aku lagi, ya?" matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar dramatis.

"Bukan begitu, Nak... Ini demi kebaikanmu—"

"Ah, sudahlah! Aku tahu! Ibu sudah bosan dengan aku! Kalau begitu, aku akan pergi!" teriak si anak kucing penuh emosi. Dengan ekor terangkat tinggi, ia melangkah keluar rumah sambil mendesah panjang.

Petualangan Si Anak Kucing

Dengan langkah gontai, si anak kucing berjalan tak tentu arah. Hingga akhirnya, ia mendongak dan melihat Matahari bersinar gagah di langit.

"Wah! Kalau aku punya ibu seperti Matahari, pasti aku akan kuat dan hebat!" pikirnya. Ia pun berseru, "Matahari yang gagah perkasa, maukah kau menjadi ibuku?"

Matahari mengernyitkan sinarnya. "Hah? Kenapa tiba-tiba aku harus jadi ibumu?"

"Karena kau kuat dan selalu bersinar. Aku ingin seperti itu!"

Matahari tertawa. "Kelihatannya saja begitu. Kadang aku juga lemah. Ada yang bisa mengalahkanku."

"SIAPA?!" tanya si anak kucing dengan mata membelalak.

"Awan. Dia sering menutupiku sampai aku tak bisa bersinar."

Si anak kucing langsung mencari awan. Ia menemukan sekumpulan awan putih mengambang di langit.

"Awan yang baik, maukah kau menjadi ibuku?"

Awan melayang turun sedikit. "Hah? Kenapa aku harus jadi ibumu?"

"Karena kau bisa mengalahkan Matahari! Aku mau jadi sekuat kamu!"

Awan terkekeh. "Nak, kamu salah paham. Aku memang bisa menutupi Matahari, tapi aku pun kalah oleh angin. Kalau angin datang, aku akan tercerai-berai!"

"Hah?! Kalau begitu, aku akan menemui angin!" kata si anak kucing, lalu ia pun pergi mencari angin.

Tak lama kemudian, ia merasakan hembusan angin yang bertiup kencang.

"Hai, Angin! Mau nggak jadi ibuku?"

Angin berhenti sejenak dan berputar mengelilingi si anak kucing. "Kenapa aku harus jadi ibumu?"

"Karena kamu bisa mengalahkan Awan! Aku mau jadi sekeren kamu!"

Angin menggeleng. "Ah, kamu ini lucu. Aku memang bisa meniup awan, tapi aku pun kalah oleh Bukit. Kalau di depanku ada bukit besar, aku tidak bisa bergerak lebih jauh."

"APA?! Ada yang lebih kuat dari Angin?" Mata si anak kucing berbinar. "Aku harus menemui Bukit!"

Ia pun berlari ke sebuah bukit yang tinggi.

"Bukit yang perkasa, maukah kau menjadi ibuku?"

Bukit mengeluarkan suara berat, "Kenapa aku harus jadi ibumu?"

"Karena kamu bisa mengalahkan Angin! Aku ingin jadi sekokoh kamu!"

Bukit terkekeh. "Bocah, kamu salah paham. Aku memang kokoh, tapi aku pun sering dirusak oleh Kerbau. Mereka menanduk tubuhku hingga terkikis."

"Hah?! Ada yang lebih kuat dari Bukit?" si anak kucing semakin penasaran. Ia pun pergi mencari Kerbau.

Ketika menemui seekor Kerbau yang tengah mengunyah rumput, ia berseru, "Kerbau yang gagah, maukah kau menjadi ibuku?"

Kerbau berhenti mengunyah. "Hah? Kenapa aku harus jadi ibumu?"

"Karena kamu lebih kuat dari Bukit! Aku ingin jadi seperti kamu!"

Kerbau menggeleng. "Ah, kamu salah. Aku pun masih kalah oleh Rotan. Rotanlah yang sering mengikatku dan membatasi gerakanku."

Si anak kucing mulai kesal. "Jadi Rotan yang paling kuat?! Baiklah, aku akan menemui Rotan!"

Ia pun berlari menuju rumpun Rotan.

"Rotan yang kuat, maukah kau menjadi ibuku?"

Rotan tertawa kecil. "Hah? Kenapa tiba-tiba aku harus jadi ibumu?"

"Karena kamu bisa mengalahkan Kerbau! Aku ingin menjadi sekeren kamu!"

Rotan menghela napas. "Nak, aku juga punya musuh. Aku sering digigit oleh serombongan tikus. Mereka selalu merusak batang-batangku."

"TIKUS?! Jadi Tikus yang paling kuat?! Aku akan menemui mereka!" Dengan semangat, ia berlari menuju lubang tikus.

Ketika melihat sekumpulan tikus, ia berseru, "Tikus perkasa! Maukah kalian mengangkatku sebagai anak kalian?"

Tikus-tikus berhenti makan dan saling berpandangan. Induk tikus maju dengan hati-hati. "Kau bercanda, ya? Seumur hidup, tikus tak pernah mengangkat kucing sebagai anak!"

"Tidak! Aku sungguh-sungguh! Kata Rotan kalian lebih kuat darinya!"

Induk tikus tertawa miris. "Kau keliru, Nak. Kami bukan yang terkuat. Justru ada makhluk yang paling kami takuti!"

"SIAPA?!" Si anak kucing semakin penasaran.

"Seekor kucing tua yang selalu memangsa kami. Tapi belakangan ini, ia tampak sakit-sakitan. Kabarnya, anak satu-satunya meninggalkan dia begitu saja..."

Si anak kucing tercekat. "Kucing tua? Sakit-sakitan? Ditinggalkan anaknya?"

Tiba-tiba hatinya mencelos. Itu pasti ibunya! Ia sadar betapa bodohnya ia meninggalkan sang bunda sejati.

Tanpa berpikir panjang, ia berlari sekencang mungkin pulang ke rumah. Saat tiba, ia melihat induknya terbaring lemah.

"Ibu! Aku pulang! Maafkan aku! Aku janji tak akan malas lagi! Aku akan menjaga Ibu!" katanya dengan air mata mengalir.

Induk kucing membuka matanya perlahan. "Anakku... Kau kembali?"

"Ya, Bu! Aku sudah tahu! Tak ada yang lebih baik darimu! Ibu adalah ibu terbaik di dunia!"

Induk kucing tersenyum dan menarik anaknya ke dalam pelukannya. Sejak saat itu, si anak kucing berubah. Ia menjadi kucing yang rajin dan selalu setia merawat ibunya.

Dan begitulah, si anak kucing akhirnya mengerti bahwa cinta seorang ibu tak tergantikan oleh siapa pun di dunia ini.

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2012, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "CERITA RAKYAT BENGKULU: IBU SEJATI"