Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CERITA RAKYAT REJANG: BATU KUYUNG


Ilustrasi. By Image Generator ChatGPT

Di sebuah dusun kecil bernama Tanjung Meranti, hiduplah sepasang suami istri yang bekerja keras mencari nafkah. Mereka bertani, menangkap ikan, serta membuat kerajinan tangan seperti bubu, baronang, dan bakul untuk dijual di pasar.

Mereka memiliki dua anak: Dimun, anak sulung yang keras kepala, dan Meterei, si bungsu yang cengeng. Namun, karena kesibukan mereka bekerja, kedua anak itu tumbuh tanpa bimbingan yang baik. Mereka sering berkata kasar, tidak menghormati orang lain, dan suka berbuat onar.

Tangisan yang Tak Didengar

Suatu hari, kedua orang tua Dimun dan Meterei sibuk menganyam bubu dan membuat bakul untuk dijual ke pasar. Karena kesibukan itu, mereka lupa memasak makanan untuk anak-anaknya.

Perut Dimun dan Meterei mulai keroncongan. Mereka berlari ke arah ibunya yang masih sibuk.

"Ibu, kami lapar! Beri kami makan!" rengek Meterei sambil menarik kain ibunya.

Sang ibu tidak menoleh, hanya mengibaskan tangannya. "Mintalah makanan pada ayahmu!"

Dimun menarik tangan adiknya dan berlari ke tempat ayah mereka.

"Ayah, kami kelaparan! Tolong beri kami makan!" pinta Dimun.

Ayah mereka menghela napas panjang tanpa menoleh. "Ayah sibuk! Pergi sana ke ibu kalian!"

Mereka kembali ke ibu mereka. Namun, jawaban yang sama keluar dari mulutnya. Mereka pun kembali ke ayah, namun tetap ditolak.

Kesal dan marah, Dimun mengangkat bubu dan membantingnya ke tanah. Meterei mengikuti dengan menendang bakul-bakul yang sudah selesai dianyam.

"Hei! Apa yang kalian lakukan?!" bentak sang ayah, bangkit dengan wajah murka.

Namun, tanpa menjawab, Dimun menarik tangan Meterei dan berlari keluar rumah. Air mata mereka mengalir deras. Mereka pergi ke kebun di belakang rumah, menuju batu besar yang biasa mereka duduki saat bermain.

"Aku benci Ayah dan Ibu!" teriak Dimun sambil duduk di atas batu.

Meterei mengusap air matanya dan mulai menyenandungkan sebuah lagu lirih yang sering mereka nyanyikan saat sedih. Dimun ikut bernyanyi, suaranya lirih namun penuh kepedihan.

Batu yang Meninggi

Ajaib, seiring dengan nyanyian mereka, batu yang mereka duduki mulai bergetar dan perlahan meninggi. Mata mereka terbelalak, namun mereka tidak berhenti. Mereka terus bernyanyi, dan batu itu semakin tinggi, mengangkat mereka menjauhi tanah.

Dari kejauhan, orang tua mereka yang baru selesai bekerja menyadari bahwa anak-anak mereka tidak ada di rumah.

"Dimun! Meterei! Ayo pulang, Ibu sudah memasak makanan untuk kalian!" panggil ibu mereka.

Namun, hanya suara angin yang menjawab. Mereka segera mencari ke kebun.

Saat tiba di sana, mereka terperanjat. Batu Kuyung yang selama ini diam kini menjulang tinggi ke langit, membawa anak-anak mereka.

"Dimun! Meterei! Berhenti bernyanyi! Turunlah!" teriak ayah mereka panik.

Namun, Dimun dan Meterei seakan tidak mendengar. Mereka terus menyanyikan lagu sedih mereka, berharap semakin jauh dari orang tua mereka yang tidak peduli.

Sang ibu menangis tersedu, jatuh berlutut di bawah batu yang terus meninggi. Sang ayah berlari ke rumah dan kembali membawa kapak. Dengan penuh emosi, ia menghantam batu itu berkali-kali.

"Kalian harus turun! Ayah menyesal! Kalian boleh marah, tapi jangan pergi!" serunya putus asa.

Namun, setiap kapak menghantam batu, tidak ada goresan yang tertinggal. Batu itu terus meninggi hingga menembus awan.

"Dimun! Meterei! Kembalilah! Ibu mohon!" isak sang ibu, suaranya nyaris tak terdengar karena tangisnya.

Namun, kedua anak itu tidak mendengar. Mereka terlalu larut dalam dendangan sedih mereka. Mereka hanya ingin pergi. Pergi jauh.

Kehancuran yang Tragis

Batu Kuyung semakin tinggi, semakin jauh dari jangkauan. Hingga akhirnya, batu itu menyentuh langit. Dalam sekejap, tubuh Dimun dan Meterei lenyap begitu saja. Tidak ada jejak mereka. Tidak ada suara mereka.

Di bawah sana, kedua orang tua mereka menatap kosong ke atas. Sang ibu jatuh pingsan, sementara sang ayah hanya bisa memeluknya dengan wajah kehilangan.

Tiba-tiba, batu itu bergetar hebat. Retakan mulai muncul di seluruh permukaannya.

"Batu ini akan runtuh!" seru sang ayah, namun ia tak sempat berlari.

Dengan suara gemuruh yang menggetarkan tanah, Batu Kuyung roboh. Batu besar itu menghantam rumah mereka, menghancurkan segalanya dalam sekejap. Puing-puing berhamburan, menimbun keduanya di bawah reruntuhan.

Sore itu, langit Tanjung Meranti mendung, seakan ikut berduka atas kisah tragis yang baru saja terjadi.

Ilustrasi. By Image Generator ChatGPT
Pesan dari Legenda

Hingga kini, di dusun Tanjung Meranti, ada sebuah batu besar yang konon merupakan sisa dari Batu Kuyung yang jatuh. Para orang tua menceritakan kisah ini kepada anak-anak mereka sebagai pelajaran.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa kasih sayang dan perhatian kepada keluarga sangatlah penting. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada penyesalan yang datang terlambat.

Emong Soewandi
Emong Soewandi Blogger sejak 2012, dengan minat pada sejarah, sastra dan teater

Post a Comment for "CERITA RAKYAT REJANG: BATU KUYUNG"